Select Page

Kelas Inkubasi SISPRENEUR untuk Perempuan Pelaku Usaha Mikro, kolaborasi perusahaan telekomunikasi, PT. XL Axiata Tbk (XL Axiata) dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), resmi berlangsung untuk tiga bulan, mulai Agustus sampai dengan Oktober 2020. Program CSR XL Axiata, Sisternet, menjadi fasilitator program inkubasi ini dalam rangka mendukung usaha mikro go digital, di masa pandemi.

Sesuai tatanan baru, peresmian SISPRENEUR juga berlangsung virtual dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Peluncuran SISPRENEUR berlangsung daring melalui aplikasi Zoom Webinar dan Youtube Live. Selain prosesi peresmian, kegiatan daring ini juga menghadirkan narasumber Webinar bertajuk, “Strategi dan Peluang Bagi Perempuan Pelaku Usaha Mikro Go-Digital”. Webinar ini melibatkan peserta kelas inkubasi, mitra pendamping rekomendasi KemenPPPA, juga media dan blogger, berlangsung Rabu, 12 Agustus 2020 via Zoom.

Hadir dalam sesi peresmian dan webinar, keynote speakers Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini dan Menteri PPPA, Bintang Puspayoga. Sedangkan dalam sesi webinar hadir narasumber antara lain Tri Wahyuningsih, Group Head Corporate Communication XL Axiata, Rachmat Kaimuddin CEO Bukalapak, Najla Bisyir Founder Bittersweet by Najla dipandu host Nucha Bachri Co-Founder Parenttalk.id.

Dian Siswarini, Presiden Direktur dan CEO XL Axiata saat launching program SISPRENEUR melalui daring

Dian Siswarini mengatakan Sispreneur melakukan pendampingan kepada 200 perempuan pelaku usaha mikro di Nusa Tenggara Barat, Bali, Sumatera Barat dan Kalimantan Barat. Melalui program kelas inkubasi secara daring ini, melalui kelas Zoom dan Whatsapp, Sispreneur memberikan tiga kompetensi dasar: Product Ready, Market Ready, Digital & Marketplace Ready. Selama tiga bulan pendampingan, harapannya para perempuan pelaku usaha mikro mendapatkan motivasi kuat mengikuti kelas dan mengimplementasikannya. “Sisternet mampu menjadi program tepat untuk pemberdayaan perempuan Indonesia,” harapnya.

Product ready menyangkut pengembangan usaha secara nyata, baik dari sisi manajemen keuangan, hingga pemilihan produk. Sedangkan market ready berkaitan dengan kesesuaian kualitas produk dengan target market yang disasar. Sementara digital and marketplace ready, mengajarkan para perempuan pelaku usaha mikro cara menggunakan channel promosi online. Partisipan kelas inkubasi ini merupakan pelaku usaha mikro, produk atau jasa antara lain makanan dan kerajinan tangan, yang belum mengoptimalkan bisnis online.

Untuk mengikuti kelas, peserta dibekali dengan starter pack/sim card XL Biz secara gratis dengan benefit Paket Data 5 GB, Unlimited Call & sms ke sesama XL, 30 Menit + 30 Sms ke operator lain, Unlimited WA, Line, free akses Facebook & Instagram sebesar 1 GB, dan Pulsa sebesar Rp 5.000.
Perempuan Berdaya Mandiri.

Menteri PPPA, Bintang Puspayoga mengatakan program Sispreneur harapannya dapat menginspirasi mempelopori perempuan untuk berdaya dan mandiri. Metode usaha online, menurut Menteri PPPA merupakan cara, inovasi, strategi untuk menjawab pergeseran pola konsumsi di masyarakat, terutama masa pandemi. Bintang Puspayoga juga mengatakan dengan sinergi yang positif dan menyatukan kekuatan bisa mewujudkan program pemberdayaan untuk Indonesia Maju.

Selaras dengan itu, Dian Siswarini mengatakan pendampingan kepada para perempuan pelaku usaha mikro ini bermaksud membantu dua sisi sekaligus, yaitu sisi perempuan sebagai penggerak ekonomi keluarga dan UMKM yang dikelolanya agar bisa menopang ekonomi keluarga dan menggerakkan ekonomi di lingkungan sekitarnya.

Menteri PPA, Bintang Puspayoga berharap dengan sinergi yang positif bisa mewujudkan program pemberdayaan untuk Indonesia Maju

Melalui Sispreneur, harapannya perempuan lewat usaha mikro yang dilakukannya mampu menjadi penyelamat keadaan ekonomi akibat imbas pandemi Covid-19. Potensi usaha mikro di kenormalan baru ini bisa dimaksimalkan lewat teknologi, go-online, e-commerce, serta melek digital.
CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin menuturkan ini waktu yang tepat untuk usaha mikro makin merambah ke arah digital sebab infrastruktur yang tersedia sudah lebih baik. Dunia digital juga bersifat genderless sehingga perempuan tak terbatasi, waktu operasional lebih fleksibel, serta jangkauan pasar yang lebih luas tak berpatokan pada lokasi.

Menurut Rachmat, kendala berdagang secara online kebanyakan adalah gaptek dan kepercayaan bertransaksi online. Namun kendala ini bukan lantas tak bisa diatasi. Ibarat pakai sepatu baru, seiring waktu kaki yang awalnya merasa tersiksa akan terbiasa memakainya berjalan. Tiga hal penting yang perlu diperhatikan di dunia digital, tambah Rachmat, adalah perlunya melatih komunikasi yang baik, deskripsi produk yang jelas saat berjualan online, foto yang menarik, dan menjaga reputasi usaha atau produknya.

Suasana belajar daring via aplikasi Zoom untuk wilayah Nusa Tenggara Barat langsung dimulai sejak tanggal 13 Agustus, sehari setelah program di launching.

Potensi dan keberhasilan usaha di dunia digital di masa pandemi ini dibuktikan oleh Najla Bisyir. Dalam sesi webinar, founder Bittersweet by Najla mengutarakan bahwa perempuan kini harus selalu berusaha upgrade skill untuk bisa survive dalam usaha serta tidak membiarkan diri puas dengan keadaan. Apalagi kemudahan lewat digital, usaha yang dilakoni dari rumah bisa dikembangkan dengan baik. Selalu belajar agar ilmu yang bisa diterapkan karena internet membuka ruang tak terbatas.
Terbukti, sejak fokus ke dunia digital, usahanya berkembang dan omset naik 5x lipat. Menurutnya, strategi menyasar pasar melalui media sosial berhasil menyelamatkan usahanya. Selain itu, ia juga membentuk tim kecil agar bisa memaksimalkan bisnis online miliknya.

“Kita harus adaptasi dengan keadaan, enggak boleh menyerah, mau belajar!” kata Najla yang selalu menambah kemampuan dan keterampilan sistem digital untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. *kontributor: BCN/X Squad domisili Payakumbuh- Uniiyani SD